Minggu, 04 Mei 2014

Ini Perbandingan Tarif Listrik Industri RI dan Malaysia

Jakarta -Pengusaha mengklaim tarif listrik industri di Malaysia lebih murah dibandingkan dengan Indonesia. Lalu apakah benar tarif listrik di Negeri Jiran itu lebih murah?

Berikut perbandingan tarif listrik industri kedua negara:

1. Indonesia

Sejak 1 Mei 2014 pemerintah Indonesia memberlakukan kenaikan tarif listrik secara bertahap untuk industri golongan I-3 dan I-4. Kenaikan listrik dilakukan per dua bulan sekali hingga Desember 2014. Khusus untuk golongan I-3 yang dikenaikan kenaikan tarif listrik hanya khusus bagi perusahaan yang sudah go public atau melantai dibursa saham.

Golongan I-3 sendiri merupakan industri skala menengah dengan daya di atas 200 kVA, sedangkan untuk golongan I-4 adalah Industri skala besar dengan daya 30 MVA ke atas.

Untuk besaran tarif industri golongan menengah dan industri besar tersebut yakni:

Periode I3 I-4
  • 1 Mei-30 Juni Rp 872-Rp938/kWh Rp 819/kWh
  • 1 Juli-31 Agustus Rp 946-Rp 1.018/kWh Rp 928/kWh
  • 1 September-31 Oktober Rp 1.027-Rp 1.105/kWh Rp 1.051/kWh
  • 1 November-seterusnya Rp 1.115-Rp 1.115/kWh Rp 1.191/kWh
2. Malaysia

Di Malaysia, pada 1 Januari 2014 memberlakukan kenaikan taif listrik juga khususnya untuk industri. Seperti dikutip situs TNB (Tanaga Nasional Berhad/PLN Malaysia), tarif industrinya yakni:

  • Untuk tarif listrik industri golongan E1 (industri tegangan menengah) tarifnya US$ 33,70 sen/kWh atau Rp 3.370 per kWh.
  • Untuk tarif golongan E2 Rp US$ 35,50 sen/kWh atau sekitar Rp 3.550/kWh.
  • Untuk tarif industri tegangan tinggi atau E3 sekitar US$ 33,70 sen/kWh atau sekitar Rp 3.370/kWh.
  • Untuk tarif tegangan tinggi khusus E3s dikenakan sekitar US$ 31,70 sen/kWh atau sekitar Rp 3.170/kWh
Dari data itu menunjukkan bahwa tarif listrik industri di Malaysia lebih mahal daripada di Indonesia.

SUMBER : htt[://finance.detik.com

Pengusaha Mal Senang Produk Bermerek Serbu Pasar Lokal

Jakarta -Masyarakat Ekonomi ASEAN akan dimulai akhir tahun depan, hal tersebut akan membuat makin banyaknya produk-produk asing, termasuk produk bermerek bebas masuk ke Indonesia. Namun bagi pengusaha mal, serbuan produk asing akan berdampak positif bagi negara.

"Orang banyak yang berpandangan negatif kita kebanyakan impor, yang banyak itu impor minyak, tapi kalau barang modal, barang jadi seperti baju, sepatu dan lainnya justru ada nilai positifnya," ungkap Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Handaka Santosa kepada detikFinance, Minggu (4/5/2014).

Menurutnya, serbuan barang-barang impor apalagi barang mahal dan terkenal alias bermerek, justru akan menguntungkan negara dari sisi devisa.

"Untungnya apa? hemat devisa, karena barang-barang branded ini banyak dijual di Indonesia, orang-orang Indonesia tidak perlu harus jauh-jauh ke luar negeri beli barang tersebut, devisanya nggak keluar," ucapnya.

"Barang-barang seperti Zara, Giordano, Uniqlo kalau nggak dijual di sini, orang Indonesia pasti beli di luar negeri," tutupnya.


SUMBER : http://finance.detik.com

Pemasangan Alat Pengendali BBM Subsidi di DKI Baru Terpasang 7%

Jakarta -Perusahaan pelaksana pemasangan alat pemantau dan pengendali BBM bersubsidi atau radio-frequency identification (RFID), PT Inti (Persero) terus menggenjot pemasangan RFID di DKI Jakarta. Sejak Juli 2013, hingga saat ini baru terpasang 331.000 unit RFID di kendaraan atau hanya 7,3% dari target 4,5 juta unit kendaraan di Jakarta.

"RFID yang sudah terpasang di Jakarta sudah mencapai 331.000 kendaraan," kata Manajer Sosialisasi Sistem Monitoring Pengendalian BBM PT Inti (Persero) Andy Nugroho kepada detikFinance, Minggu (4/5/2014).

Andy mengungkapkan, minat masyarakat di Jakarta yang ingin memasang RFID relatif rendah. Dalam sehari terpasang hanya 700-1.000 unit kendaraan, meskipun pernah terpasang RFID di 4.000 kendaraan per hari.

"Kami terus gencarkan sosialisasi masyarakat untuk segera memasang RFID. Termasuk membuka 5 posko registrasi online di Jakarta, agar masyarakat makin mudah memasang RFID," ungkapnya.

Ia menambahkan selain DKI Jakarta, dalam waktu dekat pihaknya akan memperluas pemasangan RFID di Kalimantan. "Target kami Juni 2014," katanya.

Pemasangan RFID di Jakarta sudah dimulai sejak 1 Juli 2013 dengan target 4,5 juta kendaraan. PT Inti memenangkan tender pasangan RFID sebanyak 100 juta unit kendaraan dan 92.000 nozel SBPU di seluruh Indonesia.

Jika sistem ini sudah bisa diterapkan, maka PT Pertamina akan membayar kepada PT Inti sebagai pengembalian investasi Rp 18 per liter dari setiap BBM subsidi yang tersalurkan melalui sistem RFID ini. Namun hingga kini eksekusi kapan waktu efektif pencatatan dan pengendalian konsumsi BBM subsidi melalui RFID belum jelas waktunya.

SUMBER : http://finance.detik.com

Senin, 17 Maret 2014

Jokowi Optimistis Ekonomi Jakarta Tumbuh Positif Pada 2014

 Gubernur DKI Jakarta Joko "Jokowi" Widodo optimistis, perekonomian ibu kota terus tumbuh positif pada tahun 2014.
Keyakinannya tersebut, diutarakan saat menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) 2014 ke DPRD setempat, Selasa (3/12/2013).
Rasa optimisme Jokowi itu, bukan tanpa alasan kuat. "Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta diproyeksikan mengalami peningkatan 6,1 persen sampai 6,5 persen pada tahin 2014," kata Jokowi.
"Proyeksi itu bisa tercapai, karena harga barang kebutuhan pokok diperkirakan stabil. Itu karena diasumsikan tidak ada kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah pusat," tambahnya.
Selain itu, kata dia, yang menjadi faktor pendorong meningkatnya ekonomi di Jakarta adalah perbaikan perekonomian global. Itu ditandai dengan meningkatnya kinerja sektor ekspor.
Jokowi juga menuturkan, konsumsi masyarakat juga bakal tambah meninggi jelang Pemilu 2014, sehingga meningkatkan permintaan domestik terhadap berbagai barang dan jasa.
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2014 Diperkirakan Meningkat
Laporan Yunike Lusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Joko "Jokowi" Widodo optimistis, perekonomian ibu kota terus tumbuh positif pada tahun 2014.
Keyakinannya tersebut, diutarakan saat menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) 2014 ke DPRD setempat, Selasa (3/12/2013).
Rasa optimisme Jokowi itu, bukan tanpa alasan kuat. "Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta diproyeksikan mengalami peningkatan 6,1 persen sampai 6,5 persen pada tahin 2014," kata Jokowi.
"Proyeksi itu bisa tercapai, karena harga barang kebutuhan pokok diperkirakan stabil. Itu karena diasumsikan tidak ada kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah pusat," tambahnya.
Selain itu, kata dia, yang menjadi faktor pendorong meningkatnya ekonomi di Jakarta adalah perbaikan perekonomian global. Itu ditandai dengan meningkatnya kinerja sektor ekspor.
Jokowi juga menuturkan, konsumsi masyarakat juga bakal tambah meninggi jelang Pemilu 2014, sehingga meningkatkan permintaan domestik terhadap berbagai barang dan jasa.

SUMBER : http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/12/04/jokowi-optimistis-ekonomi-jakarta-tumbuh-positif-pada-2014

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2014 Tumbuh Enam Persen

JAKARTA-Pengamat perbankan, Cyrillus Harinowo memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2014 akan mencapai enam persen dibanding 2013 sekitar 5,8 persen atau naik 0,2 persen.

"Tipisnya kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut, karena pertumbuhan itu diperkirakanmulai bangkit pada pertengahan 2014," kata Cyrillus Harinowo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Menurut komisaris independen PT BCA tersebut, pada 2015 pertumbuhan ekonomi Indonesia terus tumbuh hingga di atas enam persen, karena investasi asing terus mengalir di dalam negeri.

"Jepang misalnya diakui Indonesia sebagai negara investasi pertama dibanding negara lain," ujar dia.

Mengenai kredit perbankan, ia mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan akan melambat, seiring dengan imbauan Bank Indonesia (BI) agar perbankan menekan laju pertumbuhan kredit.

"Melambatnya kredit perbankan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, karena pelaksanaan pemilihan umum (pemilu, namun usai pemilu ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih baik," ujar Cyrillus Harinowo.

Ia mengatakan Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun depan di kisaran 15-17 persen.

Berkaitan dengan likuditas dan kredit bermasalah (NPL), menurut dia masih akan menjadi tantangan bagi perbankan pada 2014.

Cyrillus Harinowo mengatakan Tahun 2014 likuditas masih berat. Sekarang ini banyak dana dari sistem perbankan keluar dari sistemnya.

"Kami memperkirakan akhir Desember ini DPK (dana pihak ketiga) sejumlah bank akan turun. Itu terjadi karena dana dari sistem perbankan banyak keluar," ujarnya.

BCA peduli Menurut Cyrillus, PT Bank BCA mempunyai kepedulian terhadap kebudayaan di dalam negeri terutama wayang yang diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang menjadi suatu karya yang mengagumkan dalam cerita narasi, warisan yang indah dan berharga.

"Hal inilah yang menjadi alasan BCA untuk senantiasa mendukung pelestarian wayang Indonesia agar tetap terpelihara dan hidup," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya bangga dapat berpartisipasi dalam perayaan organisasi bertaraf internasional dalam bidang seni marionette/puppet tersebut.

"Perusahaan mempunyai tujuan yang sama dengan UNIMA yaitu ingin memperkenalkan wayang kepada masyarakat Indonesia bahkan dunia," ucapnya.

Menurut dia, dukungan perusahaan terhadap pewayangan Indonesia bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya telah berpartisipasi dalam acara Bali Puppetry Festival & Seminar 2013 yang menghadirkan pertunjukkan dari berbagai negara.

"Selain itu juga turut mendukung Wayang World Puppet Carnival 2013 yang merupakan festival wayang bertaraf internasional," katanya.

SUMBER : http://www.investor.co.id/home/pertumbuhan-ekonomi-indonesia-pada-2014-tumbuh-enam-persen/74736

Rabu, 22 Januari 2014

Inflasi Melonjak 1,1 Persen Akibat Banjir

Namun kenaikkan inflasi tidak berdampak pada ekonomi nasional
JAKARTA, Jaringnewscom - Bank Indonesia mencatat banjir besar di sejumlah daerah, terutama DKI Jakarta menyebabkan inflasi melonjak. Penaikkannya hingga di angka 1,1 persen.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan kenaikkan inflasi itu khusus di Januari saja. Namun kenaikkan inflasi itu tidak berdampak pada ekonomi nasional.

"Pengaruh banjir, tapi tidak berdampak ke nasional," kata Darmin di Jakarta Convention Center Jakarta, Senin (28/1).

Ini tidak jauh dari apa yang pernah Darmin katakan jika kenaikan besaran inflasi sebesar 0,9 persen. Besaran itu dihitung dari rata-rata inflasi dari berbagai daerah. Cuaca buruk yang melanda Jakarta menyebabkan inflasi lebih tinggi di kawasan ini.

Sebelumnya pemerintah menegaskan sampai saat ini tidak ada angka resmi soal nilai kerugianakibat banjir di Jakarta. Selama ini sejauh ini angka kerugian yang beredar di media hanya perkiraan, bukan data resmi.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pernah mengatakan total kerugian banjir di Jakartamencapai Rp 20 triliun. Jokowi berpendapat agar anggaran pemerintah yang digunakan untuk membayar kerugian akibat bencana banjir lebih baik dialokasikan untuk pembangunan deep tunnel. Pembangunan deep tunnel penting untuk dilaksanakan karena dianggap sebagai suatu skenario paling ampuh untuk mengantisipasi banjir di Ibu Kota.

Selama sepekan banjir menerjang Jakarta, ini yang terbesar dalam 6 tahun terakhir. Kawasan Sudirman-Thamrin, tergenang. Tak hanya itu saja, air bahkan sampai merambah ke kawasan ring satu yakni ke Istana Negara.
Lebih 20 korban jiwa melayang akibat banjir ini. Bahkan dalam hitungan BNPB, jumlah pengungsi akibat banjir ini sempat mencapai 50.000 pengungsi.

SUMBER : http://jaringnews.com/ekonomi/umum/32973/bi-inflasi-melonjak-persen-akibat-bajir

Dampak Bencana Terhadap Ekonomi Indonesia

Dr. Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB (Kandidat Profesor Riset Hidrologi)
Potensi gangguan terhadap kehidupan sosial ekonomi selalu ada bagi penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana seperti Indonesia. Risiko bencana alam membawa pengaruh negatif terhadap pembangunan, terutama pembangunan ekonomi. Bencana alam menyusutkan kapasitas produktif dalam skala besar yang berakibat pada kerugian finansial.
Karena itu, bencana alam membutuhkan pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan ekonomi kembali normal. Tetapi, semua ini memiliki konsekuensi pembiayaan yang sering melebihi kemampuan ekonomi daerah yang terlanda bencana. Kebutuhan biaya sosial ekonomi yang besar buat rehabilitasi dan rekonstruksi menelan hasil-hasil pembangunan. Laporan Asia Pacific Disaster Report 2010 yang disusun oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik (UN-ESCAP) dan UN-ISDR menyebutkan bahwa kawasan Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia, menghasilkan seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Namun, dalam 30 tahun terakhir ini 85% dari kematian dan 38% kerugian ekonomi global yang diakibatkan oleh bencana alam juga terjadi di kawasan ini. Sementara itu, Global Assessment Report (GAR 2011) memperkirakan bahwa kerugian akibat bencana setiap tahunnya rata-rata mencapai 1% dari PDB, atau setara dengan kerugian yang dialami oleh negara-negara yang mengalami krisis keuangan global pada tahun 1980 dan 1990-an.
Bagi Indonesia hal tersebut sangat terasa dari dampak bencana. Besarnya kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana sangat besar. Tsunami Aceh (2004) menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 39 Trilyun. Berturut-turut gempabumi Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 (Rp 27 trilyun), banjir Jakarta tahun 2007 (Rp 4,8 trilyun), gempabumi Sumbar tahun 2009 (Rp 21,6 trilyun), dan erupsi Merapi tahun 2010 di luar dari dampak lahar dingin sebesar Rp 3,56 trilyun. Sebuah angka yang sangat besar. Bandingkan dengan kebutuhan untuk membangun Jembatan Suramadu sekitar Rp 4,5 trilyun dan kebutuhan JORR Tahap II sepanjang 122,6 km sebanyak Rp 5 trilyun. Artinya dampak bencana tersebut menurunkan laju pembangunan.
Dampak fiskal bencana secara nasional memang tergolong kecil. Sebagai misal, tsunami Aceh tahun 2004 hanya 0,3% dari produk domestik regional bruto (PDRB) Indonesia. Namun prosentase tersebut sangat kecil di tingkat daerah yaitu mencapai 45% dari produk domestic regional bruto (PDRB). Begitu pula gempabumi Yogyakarta mencapai 41% dan gempabumi Sumatera Barat sebesar 30% dari PDRB.
Tentu saja hal ini sangat berat jika dibebankan kepada daerah. Dalam kondisi normal, tidak ada bencana saja, saat ini banyak daerah-daerah di Indonesia yang deficit. Apalagi terkena bencana dan harus memulihkan perekonomian daerah. Oleh karena itu Pemerintah Pusat diperlukan membantu pendanaannya. Dan dalam kenyataannya hamper 90 persen lebih sumber dananya dari pemerintah pusat.
Sementara itu kemampuan pemerintah mengalokasikan dana cadangan penanggulangan bencana setiap tahun hanya sekitar Rp 4 trilyun. Dana tersebut digunakan untuk mengatasi semua bencana besar maupun kecil yang terjadi di seluruh Indonesia. Alokasi dana tersebut perlu ditambah. Atau dikembangkan suatu mekanisme sistem pendanaan pasca bencana, seperti misal asuransi bencana yang preminya ditanggung pemerintah.
Mengapa Terjadi Banjir
Banjir yang terjadi pada Senin (2/4) hingga Rabu (4/4) lalu telah menyebabkan 75 RW dan ribuan rumah di Jakarta dan Tangerang terendam banjir. Banjir terjadi akibat meluapnya Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Angke dan sebagian Kali Ciliwung meluap. Padahal curah hujan yang terjadi tidak terlalu besar. Hanya sekitar 124 mm/hari pada Selasa (3/4). Jauh lebih kecil dibandingkan dengan saat banjir Jakarta tahun 1996 hujannya 300 mm/hari. Banjir tahun 2007 hujan 340 mm/hari. Luas DAS Pesanggrahan 177 km2. Hulunya di perumahan Budi Agung, Tanah Sereang Kota Bogor, dan hilir bertemu dengan Cengkareng Drain. Hampir 70% kawasan terbangun dari luas DASnya. Permukiman padat sekitar 45% dari luas DAS tersebar di bagian hilir, mulai dari Kebayoran Lama, Kedoya dan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Kawasan hijau hanya 7% dan tidak merata. Sedangkan luas DAS Angke 239 km2 dengan hulu di perumahan Yasmin Bogor kemudian melewati Parung, Bojonggede, Ciputat, Serpong dan bermuara di Mookevart. Hampir 60% dari luas DAS adalah permukiman padat. Sisanya tegalan, lahan kosong, semak. Tidak ada hutan.

Gambar 1. Daerah yang tergenang banjir 2-4 April 2012
Dengan kondisi tutupan lahan yang demikian maka hujan yang turun hampir 70% langsung menjadi limpasan permukaan. Buruknya drainase dan sungai maka tidak mampu mengalirkan limpasan permukaan. Kapasitas debit sungai saat ini hanya mampu menampung 20% dari debit banjir yang ada. Adanya penyempitan dan pendangkalan sungai menyebabkan sekitar 80% debit sungai menjadi banjir yang menggenangi permukiman. Dengan kondisi tersebut suatu hal yang wajar jika terjadi banjir. Justru akan aneh jika tidak banjir karena dari sistem hidrologi memang sudah tidak seimbang.
Guna mengatasi banjir di Kali Pesanggrahan dan sekitarnya pemerintah telah mengalokasikan dana Rp 2,3 triliun. Dana tersebut  untuk normalisasi tiga sungai yaitu Pesanggrahan, Angke dan Sunter. Pelaksanaannya dimulai tahun 2011-2014. Pertahun dialokasi Rp 600 miliar yang dilakukan oleh Kementerian PU dan Pemprov DKI, PU menangani aspek teknis untuk konstruksinya, dan DKI untuk masalah pembebasan lahan. Atau untuk Kali Pesanggrahan dan Angke sekitar Rp 400 milyar. Dengan normalisasi, kapasitas debit sungai meningkat empat kali lipat dari debitnya pada saat ini. Pada tahun ini akan dilakukan normalisasi Kali Pesanggrahan sepanjang 8 km dan Kali Angke 6 km. Total normalisasi Kali Pesanggrahan 26,7 km dengan melebarkan sungai dari 10-15 meter pada saat ini menjadi 30-40 meter. Akibatnya debit sungai akan meningkat dari 30 m3/detik menjadi 220,3 m3/detik. Normalisasi Sungai Angke dilakukan sepanjang 20 KM, dengan melebarkan dari 10-15 meter menjadi 27-30 meter pada akhir 2014. Kapasitas debit air juga akan meningkat dari 16 m3/detik menjadi 200 m3/detik.
Namun keberhasilan normalisasi tersebut sangat tergantung juga peran serta masyarakat dan dunia usaha. Sebab saat ini banyak masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Bahkan tidak sedikit yang rumah dibangun di dalam badan sungai sehingga masalah pembebasan lahan sangat berperan keberhasilan program mengatasi banjir.


SUMBER : http://www.majalahglobalreview.com/opini/8-opini/25-dampak-bencana-terhadap-ekonomi-indonesia.html