Selasa, 13 Mei 2014

Pertamina Impor Kapal dari Korea, Ini Tanggapan Produsen Kapal Lokal

Jakarta -PT Pertamina (Persero) telah memiliki 2 kapal LPG kelas Very Large Gas Carrier (VLGC) terbesar di dunia dengan kapasitas masing-masing 84.000 meter kubik, yang dipesan dari galangan kapal Hyundai Heavy Industries di Kota Ulsan, Korea Selatan.

Menurut Ketua Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) Tjahjono Roesdianto, tindakan Pertamina sah-sah saja karena industri galangan kapal dalam negeri belum mampu membuat kapal sebesar itu.

"Pertama kita tidak bisa penuhi dari segi kapasitas misalnya mereka butuh kapal yang ukurannya lebih besar dari 80.000 ton dan kita belum kuasai teknologi tankinya. Kita belum punya galangan kapal yang bisa buat ke sana. Mau-nggak mau kapalnya harus impor," kata Tjahjono saat ditemui di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (13/05/2014).

Menurutnya, industri galangan kapal dalam negeri hanya mampu memproduksi kapal dengan muatan hingga 50.000 ton. Agar bisa membuat kapal yang jauh lebih besar diperlukan investasi tambahan dari industri galangan kapal di dalam negeri.

Sayangnya investasi galangan kapal di dalam negeri tidak lagi menarik. Investor lebih memilih sektor properti dibandingkan galangan kapal untuk mencari keuntungan yang lebih cepat.

"Investasi galangan kapal cukup mahal. Butuh Rp 5 triliun untuk membangun galangan kapal yang bisa membuat kapal berukuran lebih dari 80.000 ton tetapi kembalinya modal 20 tahun lagi. Kalau kamu punya uang mendingan beli apartemen," imbuhnya.

Padahal menurut catatan dia, kebutuhan kapal di dalam negeri cukup besar. Hingga saat ini saja jumlah kapal berbendera Indonesia mencapai 13.000 unit. Hal ini tentunya bisa menjadi peluang industri galangan kapal di dalam negeri untuk berkembang.

"Industri galangan kapal di dalam negeri sekarang lebih banyak digunakan untuk refarasi (perbaikan) dibandingkan membuat kapal baru. Ada 250 industri galangan kapal. Kondisinya macam-macam tetapi tidak mandek dan jalan terus mulai dari PT PAL hingga memproduksi kapal fiber glass. Kapasitas reparasi terpasang 12 juta ton/tahun atau utilisasi 85%, kapal baru 900.000 ton atau utilisasi 35%. Pendapatan reparasi US$ 5-10 miliar," jelasnya.


SUMBER : http://finance.detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar