Rabu, 22 Januari 2014

Inflasi Melonjak 1,1 Persen Akibat Banjir

Namun kenaikkan inflasi tidak berdampak pada ekonomi nasional
JAKARTA, Jaringnewscom - Bank Indonesia mencatat banjir besar di sejumlah daerah, terutama DKI Jakarta menyebabkan inflasi melonjak. Penaikkannya hingga di angka 1,1 persen.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan kenaikkan inflasi itu khusus di Januari saja. Namun kenaikkan inflasi itu tidak berdampak pada ekonomi nasional.

"Pengaruh banjir, tapi tidak berdampak ke nasional," kata Darmin di Jakarta Convention Center Jakarta, Senin (28/1).

Ini tidak jauh dari apa yang pernah Darmin katakan jika kenaikan besaran inflasi sebesar 0,9 persen. Besaran itu dihitung dari rata-rata inflasi dari berbagai daerah. Cuaca buruk yang melanda Jakarta menyebabkan inflasi lebih tinggi di kawasan ini.

Sebelumnya pemerintah menegaskan sampai saat ini tidak ada angka resmi soal nilai kerugianakibat banjir di Jakarta. Selama ini sejauh ini angka kerugian yang beredar di media hanya perkiraan, bukan data resmi.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo pernah mengatakan total kerugian banjir di Jakartamencapai Rp 20 triliun. Jokowi berpendapat agar anggaran pemerintah yang digunakan untuk membayar kerugian akibat bencana banjir lebih baik dialokasikan untuk pembangunan deep tunnel. Pembangunan deep tunnel penting untuk dilaksanakan karena dianggap sebagai suatu skenario paling ampuh untuk mengantisipasi banjir di Ibu Kota.

Selama sepekan banjir menerjang Jakarta, ini yang terbesar dalam 6 tahun terakhir. Kawasan Sudirman-Thamrin, tergenang. Tak hanya itu saja, air bahkan sampai merambah ke kawasan ring satu yakni ke Istana Negara.
Lebih 20 korban jiwa melayang akibat banjir ini. Bahkan dalam hitungan BNPB, jumlah pengungsi akibat banjir ini sempat mencapai 50.000 pengungsi.

SUMBER : http://jaringnews.com/ekonomi/umum/32973/bi-inflasi-melonjak-persen-akibat-bajir

Dampak Bencana Terhadap Ekonomi Indonesia

Dr. Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB (Kandidat Profesor Riset Hidrologi)
Potensi gangguan terhadap kehidupan sosial ekonomi selalu ada bagi penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana seperti Indonesia. Risiko bencana alam membawa pengaruh negatif terhadap pembangunan, terutama pembangunan ekonomi. Bencana alam menyusutkan kapasitas produktif dalam skala besar yang berakibat pada kerugian finansial.
Karena itu, bencana alam membutuhkan pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan ekonomi kembali normal. Tetapi, semua ini memiliki konsekuensi pembiayaan yang sering melebihi kemampuan ekonomi daerah yang terlanda bencana. Kebutuhan biaya sosial ekonomi yang besar buat rehabilitasi dan rekonstruksi menelan hasil-hasil pembangunan. Laporan Asia Pacific Disaster Report 2010 yang disusun oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik (UN-ESCAP) dan UN-ISDR menyebutkan bahwa kawasan Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia, menghasilkan seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Namun, dalam 30 tahun terakhir ini 85% dari kematian dan 38% kerugian ekonomi global yang diakibatkan oleh bencana alam juga terjadi di kawasan ini. Sementara itu, Global Assessment Report (GAR 2011) memperkirakan bahwa kerugian akibat bencana setiap tahunnya rata-rata mencapai 1% dari PDB, atau setara dengan kerugian yang dialami oleh negara-negara yang mengalami krisis keuangan global pada tahun 1980 dan 1990-an.
Bagi Indonesia hal tersebut sangat terasa dari dampak bencana. Besarnya kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana sangat besar. Tsunami Aceh (2004) menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 39 Trilyun. Berturut-turut gempabumi Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 (Rp 27 trilyun), banjir Jakarta tahun 2007 (Rp 4,8 trilyun), gempabumi Sumbar tahun 2009 (Rp 21,6 trilyun), dan erupsi Merapi tahun 2010 di luar dari dampak lahar dingin sebesar Rp 3,56 trilyun. Sebuah angka yang sangat besar. Bandingkan dengan kebutuhan untuk membangun Jembatan Suramadu sekitar Rp 4,5 trilyun dan kebutuhan JORR Tahap II sepanjang 122,6 km sebanyak Rp 5 trilyun. Artinya dampak bencana tersebut menurunkan laju pembangunan.
Dampak fiskal bencana secara nasional memang tergolong kecil. Sebagai misal, tsunami Aceh tahun 2004 hanya 0,3% dari produk domestik regional bruto (PDRB) Indonesia. Namun prosentase tersebut sangat kecil di tingkat daerah yaitu mencapai 45% dari produk domestic regional bruto (PDRB). Begitu pula gempabumi Yogyakarta mencapai 41% dan gempabumi Sumatera Barat sebesar 30% dari PDRB.
Tentu saja hal ini sangat berat jika dibebankan kepada daerah. Dalam kondisi normal, tidak ada bencana saja, saat ini banyak daerah-daerah di Indonesia yang deficit. Apalagi terkena bencana dan harus memulihkan perekonomian daerah. Oleh karena itu Pemerintah Pusat diperlukan membantu pendanaannya. Dan dalam kenyataannya hamper 90 persen lebih sumber dananya dari pemerintah pusat.
Sementara itu kemampuan pemerintah mengalokasikan dana cadangan penanggulangan bencana setiap tahun hanya sekitar Rp 4 trilyun. Dana tersebut digunakan untuk mengatasi semua bencana besar maupun kecil yang terjadi di seluruh Indonesia. Alokasi dana tersebut perlu ditambah. Atau dikembangkan suatu mekanisme sistem pendanaan pasca bencana, seperti misal asuransi bencana yang preminya ditanggung pemerintah.
Mengapa Terjadi Banjir
Banjir yang terjadi pada Senin (2/4) hingga Rabu (4/4) lalu telah menyebabkan 75 RW dan ribuan rumah di Jakarta dan Tangerang terendam banjir. Banjir terjadi akibat meluapnya Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, Kali Angke dan sebagian Kali Ciliwung meluap. Padahal curah hujan yang terjadi tidak terlalu besar. Hanya sekitar 124 mm/hari pada Selasa (3/4). Jauh lebih kecil dibandingkan dengan saat banjir Jakarta tahun 1996 hujannya 300 mm/hari. Banjir tahun 2007 hujan 340 mm/hari. Luas DAS Pesanggrahan 177 km2. Hulunya di perumahan Budi Agung, Tanah Sereang Kota Bogor, dan hilir bertemu dengan Cengkareng Drain. Hampir 70% kawasan terbangun dari luas DASnya. Permukiman padat sekitar 45% dari luas DAS tersebar di bagian hilir, mulai dari Kebayoran Lama, Kedoya dan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Kawasan hijau hanya 7% dan tidak merata. Sedangkan luas DAS Angke 239 km2 dengan hulu di perumahan Yasmin Bogor kemudian melewati Parung, Bojonggede, Ciputat, Serpong dan bermuara di Mookevart. Hampir 60% dari luas DAS adalah permukiman padat. Sisanya tegalan, lahan kosong, semak. Tidak ada hutan.

Gambar 1. Daerah yang tergenang banjir 2-4 April 2012
Dengan kondisi tutupan lahan yang demikian maka hujan yang turun hampir 70% langsung menjadi limpasan permukaan. Buruknya drainase dan sungai maka tidak mampu mengalirkan limpasan permukaan. Kapasitas debit sungai saat ini hanya mampu menampung 20% dari debit banjir yang ada. Adanya penyempitan dan pendangkalan sungai menyebabkan sekitar 80% debit sungai menjadi banjir yang menggenangi permukiman. Dengan kondisi tersebut suatu hal yang wajar jika terjadi banjir. Justru akan aneh jika tidak banjir karena dari sistem hidrologi memang sudah tidak seimbang.
Guna mengatasi banjir di Kali Pesanggrahan dan sekitarnya pemerintah telah mengalokasikan dana Rp 2,3 triliun. Dana tersebut  untuk normalisasi tiga sungai yaitu Pesanggrahan, Angke dan Sunter. Pelaksanaannya dimulai tahun 2011-2014. Pertahun dialokasi Rp 600 miliar yang dilakukan oleh Kementerian PU dan Pemprov DKI, PU menangani aspek teknis untuk konstruksinya, dan DKI untuk masalah pembebasan lahan. Atau untuk Kali Pesanggrahan dan Angke sekitar Rp 400 milyar. Dengan normalisasi, kapasitas debit sungai meningkat empat kali lipat dari debitnya pada saat ini. Pada tahun ini akan dilakukan normalisasi Kali Pesanggrahan sepanjang 8 km dan Kali Angke 6 km. Total normalisasi Kali Pesanggrahan 26,7 km dengan melebarkan sungai dari 10-15 meter pada saat ini menjadi 30-40 meter. Akibatnya debit sungai akan meningkat dari 30 m3/detik menjadi 220,3 m3/detik. Normalisasi Sungai Angke dilakukan sepanjang 20 KM, dengan melebarkan dari 10-15 meter menjadi 27-30 meter pada akhir 2014. Kapasitas debit air juga akan meningkat dari 16 m3/detik menjadi 200 m3/detik.
Namun keberhasilan normalisasi tersebut sangat tergantung juga peran serta masyarakat dan dunia usaha. Sebab saat ini banyak masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Bahkan tidak sedikit yang rumah dibangun di dalam badan sungai sehingga masalah pembebasan lahan sangat berperan keberhasilan program mengatasi banjir.


SUMBER : http://www.majalahglobalreview.com/opini/8-opini/25-dampak-bencana-terhadap-ekonomi-indonesia.html

Sabtu, 09 November 2013

Harga Dollar Makin Tinggi, Masyarakat Makin Was-was

"SOLO, suaramerdeka.com - Makin tingginya kurs dollar AS terhadap rupiah membuat sejumlah usaha bakery was-was akan kenaikan harga bahan baku terigu yang diimpor. Pemilik Primadona Bakery, Paulus Kristono saat ini mulai mempersiapkan opsi menaikkan harga jual produknya jika harga terigu di pasaran naik."

Harga dollar yang makin tinggi saat ini  membuat banyak masyarakat Indonesia semakin was-was dan takut akan naiknya harga-harga bahan baku di Indonesia yang masih banyak bergantung pada bahan-bahan dan juga barang-barang import. Seperti contoh yang telah dikutip tingginya harga dollar sangat mempengaruhi harga pasaran bahan-bahan baku import yang banyak dibutuhkan produsen di Indonesia, apalagi melihat perkembangan harga dollar yang terus naik akhir-akhir ini jelas membuat masyarakat Indonesia menjadi was-was.

Ketergantungan Indonesia akan barang-barang import menjadi salah satu faktor pemicu rasa was-was di masyarakat Indonesia, faktanya barang-barang dan bahan baku yang 'seharusnya' mudah di dapat dari hasil produksi dalam negeri seperti beras dan bawang pun masih harus di import untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam masih harus mengimpor sumber daya alam dari luar negeri sebenarnya adalah hal yang cukup menyedihkan, jelas ini menunjukkan ketidak kompeten-an sumber daya manusia di Indonesia dalam mengolah SDA yang ada.

Harga dollar yang tinggi sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan memilik kurs yang stabil, dengan adanya kurs yang stabil maka ekonomi Indonesia akan mengalami keseimbangan baru. Tapi sambil menunggu keseimbangan yang baru itu terbentuk alangkah baiknya apabila kita bisa mengurangi ketergantungan kita akan barang-barang dan bahan-bahan import dan meningkatkan komoditas ekspor kita sendiri, dengan begitu kurs dollar yang tinggi pun tidak akan menjadi masalah dan masyarakat tidak perlu menjadi terlalu was-was.

Kamis, 09 Mei 2013

Manusia dan Pandangan Hidup

Kembalilah pada Pancasila

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Bangsa Indonesia dilanda krisis yang berkepanjangan akibat kehilangan moralitas, terutama di kalangan para pemimpin. Untuk mengatasinya, kita harus kembali menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup bersama.
Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Liesje EF Tamuntuan Makisanti, menyampaikan seruan itu dalam Kongres Nasional Tokoh Agama IV bertema "Etika Berbangsa dan Bernegara" di Jakarta, Kamis (6/12/2012). Kongres diikuti para tokoh dari lintas agama, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Menurut Liesje EF Tamuntuan Makisanti, sebagian masyarakat saat ini mudah meledak sehingga merebak menjadi konflik besar. Padahal, pemicunya kadang hanya masalah-masalah sepele. Ini memperihatinkan.
Masalah ini bukan berakar pada sistem belaka, melainkan berkait dengan soal etika berbangsa dan bernegara yang meredup. Untuk mengantisipasinya, bangsa Indonesia harus kembali berpegang pada Pancasila sebagai dasar negara, sumber nilai, dan panduan.
Kelima sila dalam Pancasila harus dijadikan pedoman untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila diakui telah menjadi rumah bersama yang didalamnya semua orang apapun latar belakang agama, keyakinan, suku, etnis bisa hidup bersama. Pancasila dan nilai nilai agama tidak bertentangan.
"Bangsa Indonesia itu majemuk, terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, agama. Itu anugerah. Bangsa Indonesia tak ada kalau sumber kemajemukan tak diakui," katanya.


opini:
Pancasila merupakan ideologi bangsa indonesia yang diambil dari nilai" dasar kemajemukan bangsa indonesia, dengan adanya pancasila bangsa indonesia bisa memiliki pandangan hidup yang lebih jelas dan dengan adanya pancasila bisa mmenjamin adanya persatuan, keadilan, kedamaian, kemerdekaan bagi indonesia, oleh karena itu kita harus tetap selalu berusaha untuk enerapkan pancasila dalam hidup kita


sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/12/06/23522533/Kembalilah.pada.Pancasila

Manusia dan Keadilan

Putusan Rasyid Rajasa Usik Rasa Keadilan


JAKARTA, KOMPAS.com — Putusan untuk terdakwa Rasyid Amrullah Rajasa (22) oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur dinilai mengusik rasa keadilan masyarakat. Putusan yang hanya percobaan untuk Rasyid dinilai terlalu rendah.
"Putusan itu sudah menjadi berita yang dibicarakan masyarakat. Rasa keadilan terusik," kata anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Martin Hutabarat, di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (26/3/2013).
Martin mengatakan, sikap keluarga Rasyid yang bertanggung jawab terhadap keluarga para korban hingga terjadi perdamaian tentu dapat menjadi pertimbangan yang meringankan hukuman. Hanya, kata dia, putusan tetap harus memenuhi rasa keadilan di masyarakat.
"Nanti akan kita tanya ketika rapat dengan Mahkamah Agung bagaimana putusan bisa keluar," pungkas politisi Partai Gerindra itu.
Seperti diberitakan, Rasyid yang merupakan anak bungsu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dihukum 6 bulan hukuman percobaan dengan hukuman pidana 5 bulan. Putusan itu lebih rendah dibanding tuntutan jaksa, yakni 8 bulan dengan masa percobaan 12 bulan.
Dengan vonis ini, Rasyid tetap dinyatakan bersalah, terbukti melanggar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Lalu Lintas akibat mengendarai kendaraan dengan lalai dan subsider Pasal 310 Ayat (2). Namun, ia tidak perlu masuk penjara bila tidak mengulang perbuatan sama dalam kurun waktu 6 bulan.
Rasyid adalah terdakwa kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi arah Bogor, Kilometer 3+335 pada 1 Januari 2013 pagi. Mobil BMW bernomor polisi B 272 HR yang dikemudikannya menghantam mobil Daihatsu Luxio (F 1622 CY) yang ada di depannya.
Lima penumpang di Daihatsu Luxio yang duduk di bagian belakang terlempar keluar. Dua di antaranya tewas, yaitu Harun (60) dan M Raihan (1,5), sedangkan tiga lainnya, yaitu Enung, Supriyanti, dan Ripal Mandala Putra, terluka.
opini:
menurut saya putusan yang dikeluarkan olehn pengadilan jelas tidaklah sesuai dengan apa yang telah terdakwa lakukan dan hukum yang ada di indonesia, jangan hanya karena terdakwa adalah seorang anak dari tokoh penting sehingga hukumannya diringankan begitu saja. Menurut saya lembaga pengadilan di indonesia yang seharusnya menjadi lembaga keadilan  bagi masyarakat sudah kehilangan wibawa dan keadilannya dimata masyarakat.



sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/26/12184248/Putusan.Rasyid.Rajasa.Usik.Rasa.Keadilan