Kamis, 09 Mei 2013

Manusia dan Pandangan Hidup

Kembalilah pada Pancasila

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Bangsa Indonesia dilanda krisis yang berkepanjangan akibat kehilangan moralitas, terutama di kalangan para pemimpin. Untuk mengatasinya, kita harus kembali menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup bersama.
Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Liesje EF Tamuntuan Makisanti, menyampaikan seruan itu dalam Kongres Nasional Tokoh Agama IV bertema "Etika Berbangsa dan Bernegara" di Jakarta, Kamis (6/12/2012). Kongres diikuti para tokoh dari lintas agama, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Menurut Liesje EF Tamuntuan Makisanti, sebagian masyarakat saat ini mudah meledak sehingga merebak menjadi konflik besar. Padahal, pemicunya kadang hanya masalah-masalah sepele. Ini memperihatinkan.
Masalah ini bukan berakar pada sistem belaka, melainkan berkait dengan soal etika berbangsa dan bernegara yang meredup. Untuk mengantisipasinya, bangsa Indonesia harus kembali berpegang pada Pancasila sebagai dasar negara, sumber nilai, dan panduan.
Kelima sila dalam Pancasila harus dijadikan pedoman untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila diakui telah menjadi rumah bersama yang didalamnya semua orang apapun latar belakang agama, keyakinan, suku, etnis bisa hidup bersama. Pancasila dan nilai nilai agama tidak bertentangan.
"Bangsa Indonesia itu majemuk, terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, agama. Itu anugerah. Bangsa Indonesia tak ada kalau sumber kemajemukan tak diakui," katanya.


opini:
Pancasila merupakan ideologi bangsa indonesia yang diambil dari nilai" dasar kemajemukan bangsa indonesia, dengan adanya pancasila bangsa indonesia bisa memiliki pandangan hidup yang lebih jelas dan dengan adanya pancasila bisa mmenjamin adanya persatuan, keadilan, kedamaian, kemerdekaan bagi indonesia, oleh karena itu kita harus tetap selalu berusaha untuk enerapkan pancasila dalam hidup kita


sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/12/06/23522533/Kembalilah.pada.Pancasila

Manusia dan Keadilan

Putusan Rasyid Rajasa Usik Rasa Keadilan


JAKARTA, KOMPAS.com — Putusan untuk terdakwa Rasyid Amrullah Rajasa (22) oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur dinilai mengusik rasa keadilan masyarakat. Putusan yang hanya percobaan untuk Rasyid dinilai terlalu rendah.
"Putusan itu sudah menjadi berita yang dibicarakan masyarakat. Rasa keadilan terusik," kata anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Martin Hutabarat, di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (26/3/2013).
Martin mengatakan, sikap keluarga Rasyid yang bertanggung jawab terhadap keluarga para korban hingga terjadi perdamaian tentu dapat menjadi pertimbangan yang meringankan hukuman. Hanya, kata dia, putusan tetap harus memenuhi rasa keadilan di masyarakat.
"Nanti akan kita tanya ketika rapat dengan Mahkamah Agung bagaimana putusan bisa keluar," pungkas politisi Partai Gerindra itu.
Seperti diberitakan, Rasyid yang merupakan anak bungsu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dihukum 6 bulan hukuman percobaan dengan hukuman pidana 5 bulan. Putusan itu lebih rendah dibanding tuntutan jaksa, yakni 8 bulan dengan masa percobaan 12 bulan.
Dengan vonis ini, Rasyid tetap dinyatakan bersalah, terbukti melanggar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Lalu Lintas akibat mengendarai kendaraan dengan lalai dan subsider Pasal 310 Ayat (2). Namun, ia tidak perlu masuk penjara bila tidak mengulang perbuatan sama dalam kurun waktu 6 bulan.
Rasyid adalah terdakwa kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi arah Bogor, Kilometer 3+335 pada 1 Januari 2013 pagi. Mobil BMW bernomor polisi B 272 HR yang dikemudikannya menghantam mobil Daihatsu Luxio (F 1622 CY) yang ada di depannya.
Lima penumpang di Daihatsu Luxio yang duduk di bagian belakang terlempar keluar. Dua di antaranya tewas, yaitu Harun (60) dan M Raihan (1,5), sedangkan tiga lainnya, yaitu Enung, Supriyanti, dan Ripal Mandala Putra, terluka.
opini:
menurut saya putusan yang dikeluarkan olehn pengadilan jelas tidaklah sesuai dengan apa yang telah terdakwa lakukan dan hukum yang ada di indonesia, jangan hanya karena terdakwa adalah seorang anak dari tokoh penting sehingga hukumannya diringankan begitu saja. Menurut saya lembaga pengadilan di indonesia yang seharusnya menjadi lembaga keadilan  bagi masyarakat sudah kehilangan wibawa dan keadilannya dimata masyarakat.



sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2013/03/26/12184248/Putusan.Rasyid.Rajasa.Usik.Rasa.Keadilan

Senin, 08 April 2013

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar

Dalam 5 Tahun, Malaysia 7 Kali Klaim Budaya Indonesia 
 
Penulis : Indra Akuntono | Selasa, 19 Juni 2012 | 17:47 WIB
 
 JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Windu Nuryanti mengatakan, sepanjang tahun 2007-2012 sedikitnya Malaysia sudah tujuh kali mengklaim budaya Indonesia sebagai warisan budaya negaranya.
"Sejarah klaim-mengklaim kebudayaan itu memang cukup panjang, dalam catatan saya sudah tujuh kali," kata Windu di gedung Kemdikbud, Jakarta, Selasa (19/6/2012).
Windu menjabarkan klaim Malaysia dimulai pada November 2007 terhadap kesenian Reog Ponorogo. Selanjutnya pada Desember 2008, saat itu Malaysia mengklaim lagu "Rasa Sayange", disusul dengan batik yang diklaim Malaysia pada Januari 2009.
"Masih ada Tari Pendet dari Bali dan alat musik angklung yang juga diklaim oleh mereka," ujarnya.
Selain kesenian, kata dia, klaim semena-mena juga dilakukan Malaysia pada Beras Adan. Padahal beras tersebut asli dari Nunukan, Kalimantan Timur, tetapi dijual Malaysia dengan merek Bario Rice.
Yang terhangat adalah klaim negeri jiran atas Tari Tor-tor dan Gondang Sambilan yang merupakan kesenian asli dari Sumatera Utara.
"Mereka menyatakan tidak mengklaim Tari Tor-tor, tapi hanya mencatat. Kami minta secara tertulis maksud mereka mencatat itu dalam kategori apa," kata Windu.
Malaysia merupakan negara tetangga dekat Indonesia dengan populasi mencapai sekitar 25 juta jiwa, terdiri dari etnis China, Melayu, dan India. Sejumlah suku di Indonesia, seperti Mandailing, Jawa, Bugis, dan lainnya, juga sudah sejak lama bermigrasi ke Malaysia dan tetap menjaga adat istiadat hingga saat ini. Beberapa pihak menyebutkan, seni Tari Tor-tor dibawa oleh warga Indonesia dari Suku Mandailing ke Malaysia sekadar untuk diperkenalkan.
 
 Opini :
 
Budaya Indonesia sudah berkali-kali di klaim oleh malaysia, banyak penyebab yang dapat menyebabkan hal ini terjadi, termasuk kurangnya masyarakat Indonesia menghargai budaya Indonesia sendiri, tapi dalam hal ini malaysia memang sudah keterlaluan sampai tujuh kali  mengklaim beberapa budaya Indonesia, kita sebagai masyarakat Indonesia harus melindungi budaya Indonesia dari ancaman" seperti ini ke depannya.
 
 
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/06/19/1747119/Dalam.5.Tahun.Malaysia.7.Kali.Klaim.Budaya.Indonesia

Manusia dan Kebudayaan

Keragaman Budaya Indonesia Diapresiasi Mahasiswa Jepang
Senin, 26 November 2012 | 10:01 WIB

 

BOGOR, KOMPAS.com--Keragaman budaya yang ada di Indonesia mendapat apresiasi dari mahasiswa dari Jepang, khususnya melalui kegiatan malam budaya yang diadakan di Institut Pertanian Bogor.
"IPB mempunyai kerja sama yang baik dengan Ibaraki University. IPB mengingatkan saya akan Indonesia beserta kekayaan budayanya," kata mahasiswa Agricultural Technology, Ibaraki University, Jepang, Kazuya Miyawaki, seperti dilansir Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, Minggu.
Menurut Kepala Humas IPB Ir Henny Windarti, MS.i,  sejak tahun 2003, IPB secara rutin ikut serta dalam "Tri-University International Joint Seminar and Symposium".
Kegiatan itu, katanya, merupakan aktivitas seminar dan simposium internasional yang digagas oleh tiga universitas yaitu Chiang Mai University (Thailand), Jiangsu University (China), dan Mie University (Jepang).
Pada tahun 2012, IPB dipercaya sebagai penyelenggara dengan mengusung tema "Role of Asia in Communities and Sustainable Development", dengan lima topik utama, yakni energi, lingkungan, pangan, populasi, dan ekologi.
Sementara itu, mahasiswa Sekolah Keperawatan Mie University Jepang Shoko Izumi juga tertarik dengan majemuknya budaya di Indonesia. "Saya menyukai suasana dan keramahan orang-orang di IPB. Saya juga menyukai keanekaragaman budaya selama di sini," katanya.
"IPB pantas dikatakan sebagai minatur Indonesia," tambahnya.
Malam budaya di IPB itu diisi berbagai atraksi kesenian dari Indonesia, mulai dari Tari Merak, Jaipong, Kuda Lumping, Reog Ponorogo, Tari Perang dan sebagainya.
Tarian-tarian budaya Indonesia itu mendapatkan sambutan hangat dari peserta "The 19th Tri-University International Joint Seminar and Symposium" 2012.

 Opini :

Indonesia memang memiliki budaya yang sangat majemuk dan beragam sehingga menjadi menarik untuk dipelajari dan diamati. Kita sebagai pemuda Indonesia seharusnya bangga dengan budaya kita sendiri yang beragam ini dan turut melestarikannya, tidak hanya membanggakan budaya orang lain dan melupakan budaya sendiri. jika bukan kita sendiri maka siapa yang akan mewarisi budaya indonesia yang sangat beragam ini? oleh karena itu sudah sepatutnya kita ikut melestarikannya.



sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/26/10011064/Keragaman.Budaya.Indonesia.Diapresiasi.Mahasiswa.Jepang
 

ISD sebagai salah satu MKDU

Pertikaian di Ambon Bukan Konflik Agama
 
 
Penulis : Ilham Khoiri | Minggu, 2 Oktober 2011 | 20:39 WIB
 
 
 POSO, KOMPAS.com — Kerusuhan di Ambon, Maluku, tahun 1999, termasuk gesekan yang meletup pada 11 September 2011, bukanlah murni konflik agama. Masalah itu sebenarnya berakar dari ketidakpuasan sebagian masyarakat atas kondisi sosial politik yang kemudian menyertakan sentimen perbedaan agama.
Hal itu disampaikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam perjalanan melawat ke Kota Ambon (Maluku) dan Poso (Sulawesi Tengah), Minggu (2/10/2011). Politisi yang menjadi mediator perjanjian Malino tahun 2002 itu kembali mengunjungi Ambon setelah meletup kerusuhan 11 September yang menewaskan tujuh orang dan menghanguskan sekitar 200 rumah. Dia juga berdialog dengan pimpinan pemerintah dan tokoh masyarakat.
Menurut Kalla, yang juga menjadi warga kehormatan Kota Ambon, konflik yang terjadi di Ambon tahun 1999 dan beberapa tahun berikutnya bukanlah konflik agama. Penerapan demokrasi setelah Reformasi 1998 membuat kelompok yang menang dalam pemilu di daerah menguasai semua jabatan, tanpa memperhitungkan keselarasan di masyarakat. Akibatnya, harmoni terganggu dan kemudian meletup secara terbuka.
”Konflik itu semakin keras karena mengikutsertakan agama. Konflik agama itu bisa berlangsung bertahun-tahun dan sulit dihentikan karena para pemeluknya berseteru atas nama ideologi keagamaan dan keyakinan masuk surga,” katanya.
Kalla berharap masyarakat Ambon tidak lagi menyertakan agama dalam konflik. Jika masih melibatkan sentimen agama, itu akan sulit dilerai sebagaimana berlangsung di beberapa negara lain, seperti Pakistan, Afganistan, dan Irak. Untuk mencegah hal seperti itu, sebaiknya perumahan warga Ambon dibuat membaur, bukan dikelompokkan berdasarkan agama karena akan lebih mudah dipetakan dan digesekkan.
Konflik menjadi kian mudah meletup jika ada beberapa faktor pendukung lain, seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, tata ruang, dan pendidikan yang rendah. 
 
Opini :
 
Di daerah seperti ambon isu sosial politik dan agama bisa menjadi suatu masalah yang sangat rentan dan dapat menjadi pemicu kerusuhan-kerusuhan antar umat beragama seperti pada artikel diatas, biarpun penyebabnya bbukan murni masalah agama, tetapi masalah ini tetap berujung pada pertikaian antar agama. Seharusnya masyarakat disana bisa bersikap lebih dewasa dan mengatasi isu sosial dan politik secara kepala dingin dan tidak disangkut pautkan dengan masalah agama.




sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/10/02/20394476/Pertikaian.di.Ambon.Bukan.Konflik.Agama

Jumat, 07 Desember 2012

Manusia dan Penderitaan (tulisan)

Manusia dan Penderitaan kerap selalu berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, di dunia ini tidak ada manusia yang tidek pernah mengalami penderitaan,. Penderitaan itu sendiri banyak macamnya dan juga banyak penyebabnya, penderitaan juga memiliki dampak besar dalam hidup seorang manusia.
 Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu Juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belurn tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan “risiko” hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar manusia sadar untuk tidak memalingkan dariNya. Untuk itu pada urnumnya manusia telah diberikan tanda sebelumnya, hanya saja mampukah manusia menangkap atau tanggap terhadap peringatan yang diberikanNya? . Tanda atau wangsit demikian dapat berupa mimpi sebagai pemunculan rasa tidak sadar dari manusia waktu tidur, atau mengetahui melalui membaca koran tentang teIjadinya penderitaan. Kepada manusia sebagai homo religius Tuhan telah memberikannya

Manusia dan Cinta Kasih (tulisan)


 Cinta menurut etimologi adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Bagaimana dengan cinta kasih? Cinta kasih adalah rasa sangat suka atau rasa sayang ataupun rasa sangat kasih atau tertarik hatinya. 
kasih sayang adalah perasaan sayang,cinta ataupun suka kepada seseorang.
apakah ada keterkaitan antara cinta kasih dan kasih sayang? ternyata jawabannya adalah ada, yaitu sama-sama memiliki suatu perasaan suka, cinta, suka terhadap seseorang.
 Tanpa Cinta Kasih, manusia memang tidak manusiawi lagi termasuk dalam segala kehendaknya. Jika manusia menghendaki kebahagiaan, tentu harus didasari Cinta Kasih, cinta kasih tidak memerlukan biaya, yg dibutuhkan adalah CINTA-KASIH ! Semoga mulai saat ini kita mau mengerti, menerima dan berbuat KASIH (LOVE) terhadap teman, sesama manusia tanpa membedakan suku, agama, warna kulit, tingkat kepandaian, kekayaan (Money), maka disanalah akan mulai tumbuh benih itu yaitu : CINTA-KASIH