"SOLO, suaramerdeka.com - Makin tingginya kurs dollar AS
terhadap rupiah membuat sejumlah usaha bakery was-was akan kenaikan
harga bahan baku terigu yang diimpor. Pemilik Primadona Bakery,
Paulus Kristono saat ini mulai mempersiapkan opsi menaikkan harga jual
produknya jika harga terigu di pasaran naik."
Harga dollar yang makin tinggi saat ini membuat banyak masyarakat Indonesia semakin was-was dan takut akan naiknya harga-harga bahan baku di Indonesia yang masih banyak bergantung pada bahan-bahan dan juga barang-barang import. Seperti contoh yang telah dikutip tingginya harga dollar sangat mempengaruhi harga pasaran bahan-bahan baku import yang banyak dibutuhkan produsen di Indonesia, apalagi melihat perkembangan harga dollar yang terus naik akhir-akhir ini jelas membuat masyarakat Indonesia menjadi was-was.
Ketergantungan Indonesia akan barang-barang import menjadi salah satu faktor pemicu rasa was-was di masyarakat Indonesia, faktanya barang-barang dan bahan baku yang 'seharusnya' mudah di dapat dari hasil produksi dalam negeri seperti beras dan bawang pun masih harus di import untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri, Indonesia yang kaya akan sumber daya alam masih harus mengimpor sumber daya alam dari luar negeri sebenarnya adalah hal yang cukup menyedihkan, jelas ini menunjukkan ketidak kompeten-an sumber daya manusia di Indonesia dalam mengolah SDA yang ada.
Harga dollar yang tinggi sebenarnya tidak menjadi masalah asalkan memilik kurs yang stabil, dengan adanya kurs yang stabil maka ekonomi Indonesia akan mengalami keseimbangan baru. Tapi sambil menunggu keseimbangan yang baru itu terbentuk alangkah baiknya apabila kita bisa mengurangi ketergantungan kita akan barang-barang dan bahan-bahan import dan meningkatkan komoditas ekspor kita sendiri, dengan begitu kurs dollar yang tinggi pun tidak akan menjadi masalah dan masyarakat tidak perlu menjadi terlalu was-was.