Senin, 08 April 2013

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar

Dalam 5 Tahun, Malaysia 7 Kali Klaim Budaya Indonesia 
 
Penulis : Indra Akuntono | Selasa, 19 Juni 2012 | 17:47 WIB
 
 JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Windu Nuryanti mengatakan, sepanjang tahun 2007-2012 sedikitnya Malaysia sudah tujuh kali mengklaim budaya Indonesia sebagai warisan budaya negaranya.
"Sejarah klaim-mengklaim kebudayaan itu memang cukup panjang, dalam catatan saya sudah tujuh kali," kata Windu di gedung Kemdikbud, Jakarta, Selasa (19/6/2012).
Windu menjabarkan klaim Malaysia dimulai pada November 2007 terhadap kesenian Reog Ponorogo. Selanjutnya pada Desember 2008, saat itu Malaysia mengklaim lagu "Rasa Sayange", disusul dengan batik yang diklaim Malaysia pada Januari 2009.
"Masih ada Tari Pendet dari Bali dan alat musik angklung yang juga diklaim oleh mereka," ujarnya.
Selain kesenian, kata dia, klaim semena-mena juga dilakukan Malaysia pada Beras Adan. Padahal beras tersebut asli dari Nunukan, Kalimantan Timur, tetapi dijual Malaysia dengan merek Bario Rice.
Yang terhangat adalah klaim negeri jiran atas Tari Tor-tor dan Gondang Sambilan yang merupakan kesenian asli dari Sumatera Utara.
"Mereka menyatakan tidak mengklaim Tari Tor-tor, tapi hanya mencatat. Kami minta secara tertulis maksud mereka mencatat itu dalam kategori apa," kata Windu.
Malaysia merupakan negara tetangga dekat Indonesia dengan populasi mencapai sekitar 25 juta jiwa, terdiri dari etnis China, Melayu, dan India. Sejumlah suku di Indonesia, seperti Mandailing, Jawa, Bugis, dan lainnya, juga sudah sejak lama bermigrasi ke Malaysia dan tetap menjaga adat istiadat hingga saat ini. Beberapa pihak menyebutkan, seni Tari Tor-tor dibawa oleh warga Indonesia dari Suku Mandailing ke Malaysia sekadar untuk diperkenalkan.
 
 Opini :
 
Budaya Indonesia sudah berkali-kali di klaim oleh malaysia, banyak penyebab yang dapat menyebabkan hal ini terjadi, termasuk kurangnya masyarakat Indonesia menghargai budaya Indonesia sendiri, tapi dalam hal ini malaysia memang sudah keterlaluan sampai tujuh kali  mengklaim beberapa budaya Indonesia, kita sebagai masyarakat Indonesia harus melindungi budaya Indonesia dari ancaman" seperti ini ke depannya.
 
 
sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/06/19/1747119/Dalam.5.Tahun.Malaysia.7.Kali.Klaim.Budaya.Indonesia

Manusia dan Kebudayaan

Keragaman Budaya Indonesia Diapresiasi Mahasiswa Jepang
Senin, 26 November 2012 | 10:01 WIB

 

BOGOR, KOMPAS.com--Keragaman budaya yang ada di Indonesia mendapat apresiasi dari mahasiswa dari Jepang, khususnya melalui kegiatan malam budaya yang diadakan di Institut Pertanian Bogor.
"IPB mempunyai kerja sama yang baik dengan Ibaraki University. IPB mengingatkan saya akan Indonesia beserta kekayaan budayanya," kata mahasiswa Agricultural Technology, Ibaraki University, Jepang, Kazuya Miyawaki, seperti dilansir Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, Minggu.
Menurut Kepala Humas IPB Ir Henny Windarti, MS.i,  sejak tahun 2003, IPB secara rutin ikut serta dalam "Tri-University International Joint Seminar and Symposium".
Kegiatan itu, katanya, merupakan aktivitas seminar dan simposium internasional yang digagas oleh tiga universitas yaitu Chiang Mai University (Thailand), Jiangsu University (China), dan Mie University (Jepang).
Pada tahun 2012, IPB dipercaya sebagai penyelenggara dengan mengusung tema "Role of Asia in Communities and Sustainable Development", dengan lima topik utama, yakni energi, lingkungan, pangan, populasi, dan ekologi.
Sementara itu, mahasiswa Sekolah Keperawatan Mie University Jepang Shoko Izumi juga tertarik dengan majemuknya budaya di Indonesia. "Saya menyukai suasana dan keramahan orang-orang di IPB. Saya juga menyukai keanekaragaman budaya selama di sini," katanya.
"IPB pantas dikatakan sebagai minatur Indonesia," tambahnya.
Malam budaya di IPB itu diisi berbagai atraksi kesenian dari Indonesia, mulai dari Tari Merak, Jaipong, Kuda Lumping, Reog Ponorogo, Tari Perang dan sebagainya.
Tarian-tarian budaya Indonesia itu mendapatkan sambutan hangat dari peserta "The 19th Tri-University International Joint Seminar and Symposium" 2012.

 Opini :

Indonesia memang memiliki budaya yang sangat majemuk dan beragam sehingga menjadi menarik untuk dipelajari dan diamati. Kita sebagai pemuda Indonesia seharusnya bangga dengan budaya kita sendiri yang beragam ini dan turut melestarikannya, tidak hanya membanggakan budaya orang lain dan melupakan budaya sendiri. jika bukan kita sendiri maka siapa yang akan mewarisi budaya indonesia yang sangat beragam ini? oleh karena itu sudah sepatutnya kita ikut melestarikannya.



sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/26/10011064/Keragaman.Budaya.Indonesia.Diapresiasi.Mahasiswa.Jepang
 

ISD sebagai salah satu MKDU

Pertikaian di Ambon Bukan Konflik Agama
 
 
Penulis : Ilham Khoiri | Minggu, 2 Oktober 2011 | 20:39 WIB
 
 
 POSO, KOMPAS.com — Kerusuhan di Ambon, Maluku, tahun 1999, termasuk gesekan yang meletup pada 11 September 2011, bukanlah murni konflik agama. Masalah itu sebenarnya berakar dari ketidakpuasan sebagian masyarakat atas kondisi sosial politik yang kemudian menyertakan sentimen perbedaan agama.
Hal itu disampaikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam perjalanan melawat ke Kota Ambon (Maluku) dan Poso (Sulawesi Tengah), Minggu (2/10/2011). Politisi yang menjadi mediator perjanjian Malino tahun 2002 itu kembali mengunjungi Ambon setelah meletup kerusuhan 11 September yang menewaskan tujuh orang dan menghanguskan sekitar 200 rumah. Dia juga berdialog dengan pimpinan pemerintah dan tokoh masyarakat.
Menurut Kalla, yang juga menjadi warga kehormatan Kota Ambon, konflik yang terjadi di Ambon tahun 1999 dan beberapa tahun berikutnya bukanlah konflik agama. Penerapan demokrasi setelah Reformasi 1998 membuat kelompok yang menang dalam pemilu di daerah menguasai semua jabatan, tanpa memperhitungkan keselarasan di masyarakat. Akibatnya, harmoni terganggu dan kemudian meletup secara terbuka.
”Konflik itu semakin keras karena mengikutsertakan agama. Konflik agama itu bisa berlangsung bertahun-tahun dan sulit dihentikan karena para pemeluknya berseteru atas nama ideologi keagamaan dan keyakinan masuk surga,” katanya.
Kalla berharap masyarakat Ambon tidak lagi menyertakan agama dalam konflik. Jika masih melibatkan sentimen agama, itu akan sulit dilerai sebagaimana berlangsung di beberapa negara lain, seperti Pakistan, Afganistan, dan Irak. Untuk mencegah hal seperti itu, sebaiknya perumahan warga Ambon dibuat membaur, bukan dikelompokkan berdasarkan agama karena akan lebih mudah dipetakan dan digesekkan.
Konflik menjadi kian mudah meletup jika ada beberapa faktor pendukung lain, seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, tata ruang, dan pendidikan yang rendah. 
 
Opini :
 
Di daerah seperti ambon isu sosial politik dan agama bisa menjadi suatu masalah yang sangat rentan dan dapat menjadi pemicu kerusuhan-kerusuhan antar umat beragama seperti pada artikel diatas, biarpun penyebabnya bbukan murni masalah agama, tetapi masalah ini tetap berujung pada pertikaian antar agama. Seharusnya masyarakat disana bisa bersikap lebih dewasa dan mengatasi isu sosial dan politik secara kepala dingin dan tidak disangkut pautkan dengan masalah agama.




sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/10/02/20394476/Pertikaian.di.Ambon.Bukan.Konflik.Agama